Rabu, 04 Januari 2017

Ujian Praktik Menulis Cerpen

Balada Om Telolet Om

Udara pagi di Desa Tegalrejo Kabupaten Magelang terasa segar. Matahari mulai keluar dari persembunyiannya. Burung-burung pun ikut terbangun dari tidurnya. Yah, suasana pagi ini memang terasa adem ayem. Sama seperti keadaan di rumah Bu Janah. Anak sulungnya yang biasanya sulit sekali untuk dibangunkan dari tidurnya, pagi ini lebih memilih membuka matanya sejak pagi buta. Sri yang biasanya sibuk mencari cara untuk membangunkan Masnya sudah dari tadi duduk bersantai sembari bermain bola bekel bersama adiknya.
“Mas Didin! Jangan lupa lho nanti jam 11 ada pengajian, tadi ibu udah bilang ke aku, katanya mas suruh ikut juga.” Seru Sri dari ruang tamu. “Mas ngga bisa Sri, udah kangsenan sama temen-temen mau nyari telolet disana itu, di pinggir jalan pokoknya.” Tolak Didin sambil memamerkan sebuah kertas karton bertuliskan OM TELOLET OM. “Tapi, tadi sebelum ibu ke pasar, ibu udah pesen kaya gitu sama aku. Pagi ini juga mas disuruh nguras blumbang belakang.” Jelas Sri dengan menaikkan nada bicaranya. Tapi, bukan Didin namanya jika ia mau mendengarkan perkataan adiknya tersebut. “Ahhh… nanti saja lah! Mas sibuk Sri. Mas berangkat dulu ahh, ndak ditinggal sama temen-temen. Assalamualaikum.” Timpal Didin yang langsung ngacir ke luar rumah sambil cengengesan.
Sri Nampak bingung. Ia mondar-mandir bak seseorang yang sedang memikirkan hutangnya. Ada dua kerut yang muncul di dahinya yang cukup lebar itu. Ya, jelas saja dia bingung. Bagaimana tidak? Ia sudah diberi tugas penting oleh ibunya. Bukan untuk menemani adiknya yang dari tadi masih saja bermain bekel. Namun, untuk menyampaikan sesuatu kepada Masnya. Tiba-tiba suara seseorang dari balik pintu mengejutkannya. “Sri..” panggil Bu Janah. “I..iyaa.. bu.. dalem,” jawab Sri gemetar. ”Ada apa bu?” Tanya Sri dengan memasang raut wajah yang masih terlihat gemetar. “Adekmu si Putri sudah kamu mandikan to?” Tanya ibu. “Sudah kok bu, itu lagi mainan bekel disitu” jawab Sri sambil menunjuk adiknya. “Oh ya sudah kalau gitu, ibu mau ganti baju dulu, sebentar lagi kan jam 11,” timpal ibu yang sedang berjalan menuju kamarnya yang  berada di samping kamar Didin.
 “Sri, “Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” Tanya Bu Janah. “Mas Didin pergi bersama temen-temenya ke pinggir jalan raya. Katanya mau Telolet, Bu” jawab Sri. “O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat. Lha iki? Emang telolet bisa buat sangu akhirat po yo nduk?” Tanya Ibu. “Nganu lho Bu, telolet itu klakson bus yang sekarang ini lagi ngehits banget bu.” Jelas Sri tanpa rasa gemetar lagi. “Ngehits ki opo meneh Sri? Ya Allah, bisa edan iki ibu nek ngomong bahasa aneh begitu” ucap Ibu dengan raut wajah kebingungan. “Anu bu.. a…” tiba-tiba ucapan Sri terpotong karena ada suara ketukan pintu dari depan. Bu Janah dan Sri langsung menuju kea rah ketukan tersebut. Tampak seorang lelaki berbadan kekar terlihat panik. “Bu, itu ada kecelakaan di jalan depan situ” ucap laki-laki tersebut. Tanpa basa basi lagi mereka langsung menuju ke tempat yang dikatakan laki-laki itu.
“Ýa Allah Din, mudah-mudahan gak parah, Ya Allah” ucap Bu Janah yang hampir tak bisa didengar oleh orang lain. Bu Janah dn Sri terlihat sangat panik. Namun kepanikan mereka mereda setelah sampai di lokasi kecelakaan. “Alhamdulillah le, kamu ora ngopo-ngopo” ucap Bu Janah sambil memeluk Didin. “Mboten Bu, yang kecelakaan bukan saya Bu. Itu temen saya tadi cuma kaget sama suara Telolet terus jatuh terus ngga sengaja kesrempet motore bapak itu” jelas Didin. Bu Janah dan Sri manggut-manggut, namun raut wajah Bu Janah yang tadinya nampak lega menjadi berubah. ”Kui lho le, temenmu udah ada yang jading korban, kamu juga mau ikut-ikutan kaya gitu? Disuruh ikut ngaji malah nglegakke nyari perkara.” Kata Bu Janah sambil menjewer Didin. Didin yang dijewer mengaduh kesakitan, sementara Sri yang ada di samping Bu janah terlihat tertawa cekikikan.

1 komentar:

  1. OK, terima kasih. Bagus bahasanya lincah, mudah dicerna. Kritik saya, gunakan alinea dalam penulisan sehingga gagasan yang Anda sampaikan mudah dipahami Penulisan dialog setiap ganti pembicaraan ganti aline.Sebab, blog menyediakan kapasitas yang tidak terbatas sehingga panjang tidak jadi masalah. Penggunaan tanda baca dalam dialog mohon diperhatikan. Coba bandingkan pembetulan sebagian dari cerpen Anda berikut.

    Udara pagi di Desa Tegalrejo Kabupaten Magelang terasa segar. Matahari mulai keluar dari persembunyiannya. Burung-burung pun ikut terbangun dari tidurnya. Yah, suasana pagi ini memang terasa adem ayem. Sama seperti keadaan di rumah Bu Janah. Anak sulungnya yang biasanya sulit sekali untuk dibangunkan dari tidurnya, pagi ini lebih memilih membuka matanya sejak pagi buta. Sri yang biasanya sibuk mencari cara untuk membangunkan masnya sudah dari tadi duduk bersantai sembari bermain bola bekel bersama adiknya.
    “Mas Didin! Jangan lupa lho nanti jam 11 ada pengajian, tadi ibu udah bilang ke aku, katanya Mas suruh ikut juga, ” seru Sri dari ruang tamu.
    “Mas nggak bisa Sri, udah kangsenan sama temen-temen mau nyari telolet di sana itu, di pinggir jalan pokoknya, ” tolak Didin sambil memamerkan sebuah kertas karton bertuliskan OM TELOLET OM.
    “Tapi, tadi sebelum ibu ke pasar, ibu udah pesen kaya gitu sama aku. Pagi ini juga mas disuruh nguras blumbang belakang, ” jelas Sri dengan menaikkan nada bicaranya.
    Tapi, bukan Didin namanya jika ia mau mendengarkan perkataan adiknya tersebut. “Ahhh… nanti saja lah! Mas sibuk Sri. Mas berangkat dulu ahh, ndak ditinggal sama temen-temen. Assalamualaikum, ” timpal Didin yang langsung ngacir ke luar rumah sambil cengengesan.

    Sri Nampak bingung. Ia mondar-mandir bak seseorang yang sedang memikirkan utangnya. Ada dua kerut yang muncul di dahinya yang cukup lebar itu. Ya, jelas saja dia bingung. Bagaimana tidak? Ia sudah diberi tugas penting oleh ibunya. Bukan untuk menemani adiknya yang dari tadi masih saja bermain bekel. Namun, untuk menyampaikan sesuatu kepada masnya. Tiba-tiba suara seseorang dari balik pintu mengejutkannya.
    “Sri..” panggil Bu Janah. “I..iyaa.. Bu.. dalem,” jawab Sri gemetar.
    ”Ada apa Bu? ” tanya Sri dengan memasang raut wajah yang masih terlihat gemetar.
    “Adikmu si Putri sudah kamu mandikan to? ” tanya ibu.
    “Sudah kok Bu, itu lagi mainan bekel di situ, ” jawab Sri sambil menunjuk adiknya.
    “Oh ya sudah kalau gitu, ibu mau ganti baju dulu, sebentar lagi kan jam 11,” timpal ibu yang sedang berjalan menuju kamarnya yang berada di samping kamar Didin.
    “Sri, “Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” tanya Bu Janah.
    “Mas Didin pergi bersama temen-temenya ke pinggir jalan raya. Katanya mau Telolet, Bu, ” jawab Sri.
    “O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat. Lha iki? Emang telolet bisa buat sangu akhirat po yo Nduk?” tanya ibu.
    “Nganu lho Bu, telolet itu klakson bus yang sekarang ini lagi ngehits banget Bu,” jelas Sri tanpa rasa gemetar lagi.
    “Ngehits ki opo meneh Sri? Ya Allah, bisa edan iki ibu nek ngomong bahasa aneh begitu, ” ucap Ibu dengan raut wajah kebingungan.

    BalasHapus