Balada Om Telolet Om
Udara
pagi di Desa Tegalrejo Kabupaten Magelang terasa segar. Matahari mulai keluar
dari persembunyiannya. Burung-burung pun ikut terbangun dari tidurnya. Yah,
suasana pagi ini memang terasa adem ayem. Sama seperti keadaan di rumah Bu
Janah. Anak sulungnya yang biasanya sulit sekali untuk dibangunkan dari tidurnya,
pagi ini lebih memilih membuka matanya sejak pagi buta. Sri yang biasanya sibuk
mencari cara untuk membangunkan Masnya sudah dari tadi duduk bersantai sembari
bermain bola bekel bersama adiknya.
“Mas
Didin! Jangan lupa lho nanti jam 11 ada pengajian, tadi ibu udah bilang ke aku,
katanya mas suruh ikut juga.” Seru Sri dari ruang tamu. “Mas ngga bisa Sri,
udah kangsenan sama temen-temen mau nyari telolet disana itu, di pinggir jalan
pokoknya.” Tolak Didin sambil memamerkan sebuah kertas karton bertuliskan OM
TELOLET OM. “Tapi, tadi sebelum ibu ke pasar, ibu udah pesen kaya gitu sama
aku. Pagi ini juga mas disuruh nguras blumbang belakang.” Jelas Sri dengan
menaikkan nada bicaranya. Tapi, bukan Didin namanya jika ia mau mendengarkan
perkataan adiknya tersebut. “Ahhh… nanti saja lah! Mas sibuk Sri. Mas berangkat
dulu ahh, ndak ditinggal sama temen-temen. Assalamualaikum.” Timpal Didin yang
langsung ngacir ke luar rumah sambil cengengesan.
Sri
Nampak bingung. Ia mondar-mandir bak seseorang yang sedang memikirkan
hutangnya. Ada dua kerut yang muncul di dahinya yang cukup lebar itu. Ya, jelas
saja dia bingung. Bagaimana tidak? Ia sudah diberi tugas penting oleh ibunya. Bukan
untuk menemani adiknya yang dari tadi masih saja bermain bekel. Namun, untuk
menyampaikan sesuatu kepada Masnya. Tiba-tiba suara seseorang dari balik pintu
mengejutkannya. “Sri..” panggil Bu Janah. “I..iyaa.. bu.. dalem,” jawab Sri
gemetar. ”Ada apa bu?” Tanya Sri dengan memasang raut wajah yang masih terlihat
gemetar. “Adekmu si Putri sudah kamu mandikan to?” Tanya ibu. “Sudah kok bu,
itu lagi mainan bekel disitu” jawab Sri sambil menunjuk adiknya. “Oh ya sudah
kalau gitu, ibu mau ganti baju dulu, sebentar lagi kan jam 11,” timpal ibu yang
sedang berjalan menuju kamarnya yang
berada di samping kamar Didin.
“Sri, “Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi
aku tidak melihat wajahnya?” Tanya Bu Janah. “Mas Didin pergi bersama
temen-temenya ke pinggir jalan raya. Katanya mau Telolet, Bu” jawab Sri. “O alah,
Din, Telolet ki panganan opo. Lha mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu
akhirat. Lha iki? Emang telolet bisa buat sangu akhirat po yo nduk?” Tanya Ibu.
“Nganu lho Bu, telolet itu klakson bus yang sekarang ini lagi ngehits banget
bu.” Jelas Sri tanpa rasa gemetar lagi. “Ngehits ki opo meneh Sri? Ya Allah,
bisa edan iki ibu nek ngomong bahasa aneh begitu” ucap Ibu dengan raut wajah
kebingungan. “Anu bu.. a…” tiba-tiba ucapan Sri terpotong karena ada suara
ketukan pintu dari depan. Bu Janah dan Sri langsung menuju kea rah ketukan
tersebut. Tampak seorang lelaki berbadan kekar terlihat panik. “Bu, itu ada
kecelakaan di jalan depan situ” ucap laki-laki tersebut. Tanpa basa basi lagi
mereka langsung menuju ke tempat yang dikatakan laki-laki itu.
“Ýa
Allah Din, mudah-mudahan gak parah, Ya Allah” ucap Bu Janah yang hampir tak
bisa didengar oleh orang lain. Bu Janah dn Sri terlihat sangat panik. Namun
kepanikan mereka mereda setelah sampai di lokasi kecelakaan. “Alhamdulillah le,
kamu ora ngopo-ngopo” ucap Bu Janah sambil memeluk Didin. “Mboten Bu, yang
kecelakaan bukan saya Bu. Itu temen saya tadi cuma kaget sama suara Telolet
terus jatuh terus ngga sengaja kesrempet motore bapak itu” jelas Didin. Bu
Janah dan Sri manggut-manggut, namun raut wajah Bu Janah yang tadinya nampak lega
menjadi berubah. ”Kui lho le, temenmu udah ada yang jading korban, kamu juga
mau ikut-ikutan kaya gitu? Disuruh ikut ngaji malah nglegakke nyari perkara.” Kata
Bu Janah sambil menjewer Didin. Didin yang dijewer mengaduh kesakitan,
sementara Sri yang ada di samping Bu janah terlihat tertawa cekikikan.