Kamis, 03 November 2016

Teks Sejarah



Kartini Keluarga

Supriyantinah lahir pada 15 April 1966 di kota Magelang. Ia merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara dari pasangan Suharti dan Muhdi Muh Amsyar. Tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana di Desa Kluyon bersama dengan kedua orangtua dan saudara kandungnya. Ia memang bukanlah terlahir dari keluarga yang berkecukupan, hal tersebut jelas berdampak bagi kehidupannya dan juga ke-7 saudaranya. Setiap hari ia selalu bahu membahu dengan saudaranya untuk meringankan beban ke-2 orangtuanya. Tak jarang juga ia dan saudaranya selaalu berbagi dalam keadaan apapun.
Beliau memulai pendidikannya di SD Negeri Kramat 3 Magelang. Setelah itu dilanjutkan di SMP Negeri 5 Magelang. Setelah lulus ia melanjutkan ke jenjang SMA sederajat yaitu SMK Pendowo Magelang. Perjalanan pendidikannya tidaklah semudah seperti saat ini. Jarak antara rumah dan sekolahnya terpaut jauh. Hal inilah yang membuat ia harus menguras keringat jika ingin sampai di sekolah. Pada saat itu belum ada kendaraan umum, ditambah lagi ia juga tidak memiliki sepatu untuk sekolah, ia hanya menggunakan alas kaki seadanya. Namun hal inilah yang membuat ia selalu merasa semangat, ia sadar bahwa ia seharusnya masih beruntung bisa sekolah.

Beberapa tahun setelah lulus, ia memulai lembar baru dalam kehidupannya. Ia memutuskan untuk merantau ke kuar kota yang menuntutnya harus lebih mandiri. Ia merantau ke Kota Semarang. Selama beberapa tahun ia bekerja di sebuah koperasi untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak hanya nerantau ke Kota Semarang, pada tahun 1985 ia memilih untuk merantau ke Kota lain yaang dianggapnya terdaapat peluang besar untuk bekerja yaitu Jakarta. Di sana juga ia akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki bernama Agus Roesmiyanto yang pada tahun 1996 resmi menjadi suaminya.
Setelah satu tahun menikah, mereka dikaruniai seorang putri yang bernama Putri Ayoebi Roesmiyanto. Keluarga kecil Supriyantinah hidup dengan bahagia dengan kehidupannya. Namun pada tahuyn 2010 suaminya tertimpa musibah dan jatuh sakit. Suaminya terkena serangan jantung dan juga stroke ringan. Hal tersebut yang akhirnya membuat Supriyantinah harus rela banting tulang sendiri menggantikan posisi suaminya. Ia rela melakukan apapun demi keluarga kecilnya tersebut.
Walaupun ia hanya seorang wanita biasa, namun tidak membuatnya menyerah begitu saja. Ia tetap bekerja keras untuk keluarganya dan demi keluarganya sampai detik ini. Baginya keluarga adalah hal yang paling ia cintai. Dari kecintaannya tersebut, ia tidak hanya berhasil menjadi seorang ibu, namun ia juga berhasil menjadi penopang dan teladan yang baik bagi keluarganya.

1 komentar:

  1. OK, terima kasih. Sebaiknya penempatan gambar perlu dipertimbangkan sehingga tidak ada ruang, "space" yang terbuang.

    BalasHapus