Kartini Keluarga
Supriyantinah
lahir pada 15 April 1966 di kota Magelang. Ia merupakan anak ke-6 dari 8
bersaudara dari pasangan Suharti dan Muhdi Muh Amsyar. Tinggal di sebuah rumah
yang sangat sederhana di Desa Kluyon bersama dengan kedua orangtua dan saudara
kandungnya. Ia memang bukanlah terlahir dari keluarga yang berkecukupan, hal
tersebut jelas berdampak bagi kehidupannya dan juga ke-7 saudaranya. Setiap
hari ia selalu bahu membahu dengan saudaranya untuk meringankan beban ke-2
orangtuanya. Tak jarang juga ia dan saudaranya selaalu berbagi dalam keadaan
apapun.
Beliau memulai
pendidikannya di SD Negeri Kramat 3 Magelang. Setelah itu dilanjutkan di SMP
Negeri 5 Magelang. Setelah lulus ia melanjutkan ke jenjang SMA sederajat yaitu
SMK Pendowo Magelang. Perjalanan pendidikannya tidaklah semudah seperti saat
ini. Jarak antara rumah dan sekolahnya terpaut jauh. Hal inilah yang membuat ia
harus menguras keringat jika ingin sampai di sekolah. Pada saat itu belum ada
kendaraan umum, ditambah lagi ia juga tidak memiliki sepatu untuk sekolah, ia
hanya menggunakan alas kaki seadanya. Namun hal inilah yang membuat ia selalu
merasa semangat, ia sadar bahwa ia seharusnya masih beruntung bisa sekolah.
Beberapa tahun
setelah lulus, ia memulai lembar baru dalam kehidupannya. Ia memutuskan untuk merantau
ke kuar kota yang menuntutnya harus lebih mandiri. Ia merantau ke Kota Semarang.
Selama beberapa tahun ia bekerja di sebuah koperasi untuk memenuhi kebutuhannya.
Tidak hanya nerantau ke Kota Semarang, pada tahun 1985 ia memilih untuk
merantau ke Kota lain yaang dianggapnya terdaapat peluang besar untuk bekerja
yaitu Jakarta. Di sana juga ia akhirnya bertemu dengan
seorang laki-laki bernama Agus Roesmiyanto yang pada tahun 1996 resmi menjadi
suaminya.
Setelah satu
tahun menikah, mereka dikaruniai seorang putri yang bernama Putri Ayoebi
Roesmiyanto. Keluarga kecil Supriyantinah hidup dengan bahagia dengan
kehidupannya. Namun pada tahuyn 2010 suaminya tertimpa musibah dan jatuh sakit.
Suaminya terkena serangan jantung dan juga
stroke ringan. Hal tersebut yang akhirnya membuat Supriyantinah harus rela
banting tulang sendiri menggantikan posisi suaminya. Ia rela melakukan apapun
demi keluarga kecilnya tersebut.
Walaupun ia
hanya seorang wanita biasa, namun tidak membuatnya menyerah begitu saja. Ia
tetap bekerja keras untuk keluarganya dan demi keluarganya sampai detik ini. Baginya
keluarga adalah hal yang paling ia cintai. Dari kecintaannya tersebut, ia tidak
hanya berhasil menjadi seorang ibu, namun ia juga berhasil menjadi penopang dan
teladan yang baik bagi keluarganya.

OK, terima kasih. Sebaiknya penempatan gambar perlu dipertimbangkan sehingga tidak ada ruang, "space" yang terbuang.
BalasHapus