Jumat, 04 November 2016

Teks Berita



Hysteria 37 tahun Smada

Sabtu(29/10/16) SMA Negeri 2 Magelang menyelenggarakan acara pensi internal Hysteria (The New History of Smada) yang diselenggarakan di Gedung A.H Nasution Magelang. Acara ini merupakan salah satu  rangkaian acara untuk memeriahkan acara HUT Smada ke-37 dan juga penutup dari acara-acara yang sudah terselenggara. Sebelumnya sudah terlaksana beberapa acara untuk menyemarakkan HUT Smada, yaitu Begarlist Volley Cup yang dilaksanakan di SMA Negeri 2 Magelang, kemudian Begarlist Futsal Cup yang dilaksanakan di area Hotel Trio Magelang, lalu ada juga jalan santai, kemudian acara puncak yaitu konser music Maganza Festival yang diselenggarakan di Tribakti Convention Hall.
Hysteria merupakan acara penutup dari acara sebelumnya. Sebenarnya acara ini akan dilaksanakan sebelum konser musik Maganza Festival, namun karena  alasan tertentu maka acara ini terpaksa harus diundur dan akhirnya dapat terlaksana pada Sabtu(29/10/16). Acara ini dimulai pada pukul 08.00 WIB. Hysteria didominasi penampilan band oleh para siswa maupun guru. Selain itu ada juga flashmob, modern dance, tarian tradisional, puisi berantai, dan stand up comedy.  Antusiasme para penonton bertambah saat penampilan dari kelas XII yang terdiri dari tari kolosal yang dipadukan dengan modern dance.



Antuniasme para penonton benar-benar terlihat. Pasalnya acara pensi internal pada tahun-tahun sebelumnya memang tidak semeriah tahun ini. “Siswa-siswi SMA Negeri 2 Magelang memang benar-benar berbakat, saya juga tidak menyangka bahwa acara ini sangat berkesan dan lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya” ucap salah satu guru SMA Negeri 2 Magelang. Acara ini ditutup dengan foto bersama dengan tiga angkatan dan berakhir pada pukul 14.15 WIB.


Kamis, 03 November 2016

Teks Sejarah



Kartini Keluarga

Supriyantinah lahir pada 15 April 1966 di kota Magelang. Ia merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara dari pasangan Suharti dan Muhdi Muh Amsyar. Tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana di Desa Kluyon bersama dengan kedua orangtua dan saudara kandungnya. Ia memang bukanlah terlahir dari keluarga yang berkecukupan, hal tersebut jelas berdampak bagi kehidupannya dan juga ke-7 saudaranya. Setiap hari ia selalu bahu membahu dengan saudaranya untuk meringankan beban ke-2 orangtuanya. Tak jarang juga ia dan saudaranya selaalu berbagi dalam keadaan apapun.
Beliau memulai pendidikannya di SD Negeri Kramat 3 Magelang. Setelah itu dilanjutkan di SMP Negeri 5 Magelang. Setelah lulus ia melanjutkan ke jenjang SMA sederajat yaitu SMK Pendowo Magelang. Perjalanan pendidikannya tidaklah semudah seperti saat ini. Jarak antara rumah dan sekolahnya terpaut jauh. Hal inilah yang membuat ia harus menguras keringat jika ingin sampai di sekolah. Pada saat itu belum ada kendaraan umum, ditambah lagi ia juga tidak memiliki sepatu untuk sekolah, ia hanya menggunakan alas kaki seadanya. Namun hal inilah yang membuat ia selalu merasa semangat, ia sadar bahwa ia seharusnya masih beruntung bisa sekolah.

Beberapa tahun setelah lulus, ia memulai lembar baru dalam kehidupannya. Ia memutuskan untuk merantau ke kuar kota yang menuntutnya harus lebih mandiri. Ia merantau ke Kota Semarang. Selama beberapa tahun ia bekerja di sebuah koperasi untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak hanya nerantau ke Kota Semarang, pada tahun 1985 ia memilih untuk merantau ke Kota lain yaang dianggapnya terdaapat peluang besar untuk bekerja yaitu Jakarta. Di sana juga ia akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki bernama Agus Roesmiyanto yang pada tahun 1996 resmi menjadi suaminya.
Setelah satu tahun menikah, mereka dikaruniai seorang putri yang bernama Putri Ayoebi Roesmiyanto. Keluarga kecil Supriyantinah hidup dengan bahagia dengan kehidupannya. Namun pada tahuyn 2010 suaminya tertimpa musibah dan jatuh sakit. Suaminya terkena serangan jantung dan juga stroke ringan. Hal tersebut yang akhirnya membuat Supriyantinah harus rela banting tulang sendiri menggantikan posisi suaminya. Ia rela melakukan apapun demi keluarga kecilnya tersebut.
Walaupun ia hanya seorang wanita biasa, namun tidak membuatnya menyerah begitu saja. Ia tetap bekerja keras untuk keluarganya dan demi keluarganya sampai detik ini. Baginya keluarga adalah hal yang paling ia cintai. Dari kecintaannya tersebut, ia tidak hanya berhasil menjadi seorang ibu, namun ia juga berhasil menjadi penopang dan teladan yang baik bagi keluarganya.